
Masjid
Agung Darul Muttaqin Purworejo memiliki peninggalan-peninggalan kuno
yang sangat berharga, dan merupakan satu-satunya di Indonesia yaitu
berupa Bedug. Raden Adipati Cokronagoro pertama berkeinginan untuk
melengkapi semua perlengkapan Masjid Agung Purworejo ini. Demikian pula
beliau menghendaki sebuah Bedug yang akan dipakai sebagai pertanda telah
masukknya saat Sholat Fardhu ( Wajib ) juga dapat dipakai untuk
menandai segala kegiatan ibadah Umat Islam serta kenegaraan waktu itu.
Maka keinginan Raden Adipati ini diutarakanlah kepada para Suntono
Kadipaten beserta para ‘Ulama’ Kadipaten Purworejo. kayu Jati Bang, yang
batangya telah dipakai untuk membuat Soko Guru Masjid Agung serta
Pendhopo Kadipaten, tinggal sisanya yang disebut Bongkot ( pangkal ).
Bongkotnya kayu jati itu cukup besar, berdiameter hampir 2,50 meter.
Raden
Adipati Cokronagoro sangat setuju untuk memanfaatkan bongkot kayu jati
Bang tersebut dan memerintahkan kepada adindanya Raden Tumenggung
Prawironagoro Wedana Bragolan untuk mengurusnya. Dengan dipimpin oleh
Raden Tumenggung Prawironagoro, pembuatan Bedung Agung itu dilaksanakan
dengan sebaik-baiknya. Dengan trampilnya para tukang kayu mengerjakan
Bedug besar itu, digergaji dan dilubanginya bongkot kayu jati tersebut.
Setelah dilubangi dan dihaluskan maka tinggallah ukuran yang
sesungguhnya, yaitu diameter ( garis tengah ) 194 sentimeter pada bagian
depan dan bagian belakang 180 sentimeter. Dapat dibayangkan saat
pembuatan lubang pada bongkot kayu jati tersebut, tentunya sangatlah
sukar, karena kayunya sangat keras. Bahkan ada perkiraan dalam melubangi
kayu itu dilakukan dengan membuat bara didalam kayu itu sendiri,
sehingga akan terjadi lubang, kemudian dilanjutkan dengan dicungkil
sedikit demi sedikit sampai akhirnya terbentuk lubang yang sangat bagus.
Tetapi dapat pula dilakukan pencungkilan mulai dari saat awal secara
sedikit demi sedikit sampai pada akhirnya membentuk lubang yang
diinginkan. Yang jelas dalam proses pembuatan bedug itu sendiri,
dilaksanakan dengan hati-hati dan permohonan kepada Allah SWT. Agar
kelak Bedug yang terbentuk dapat bermanfaat dan berfungsi dengan baik.
Pada akhirnya pekerjaan yang cukup sulit itu selesai jugalah dikerjakan orang dengan ukuran sebagai berikut :
Garis tengah bagian depan = 194 cm
Garis tengah bagian belakang = 180 cm
Keliling lingkaran depan = 601 cm
Keliling lingkaran belakang = 564 cm
Panjang rata-rata = 292 cm
Bahan dari kayu Jati Bang bagian pangkalnya ( bongkot nya ) sisa kayu
jati Pendowo, tidak terdapat sambungan, jadi utuh satu glundung.
Kemudian Wedana Bragolan yang mendapat tugas memimpin pengerjaan bedug
itu, yaitu Raden Tumenggung Prawironagoro, menghadap (sowan ) Kanjeng
Raden Adipati Cokronagoro I untuk melaporkan, bahwa pembuatan Bedug
Agung telah selesai dengan baik. Untuk selanjutnya tinggal menuggu
perintah pengangkutannya ke kota Purworejo, yang jaraknya dari Dukuh
Pendowo sampai ke kota Purworejo adalah 9 kilometer.
Mengingat pada
masa itu jarak 9 kilometer adalah cukup jauh, apalagi jalannya belumlah
seperti pada masa kini yang sudah beraspal dan halus. Pada masa itu,
jalan dari Purwodadi sampai ke kota Purworejo masih merupakan jalan
tanah yang belum rata dan bilamana dimusim hujan akan berlumpur,
sedangkan pada musim panas berdebu penuh batu. Dikiri kanannya masih
tertutup hutan dan dapuran bambu yang cukup rapat, sedangkan rumah
penduduk masih jarang sekali. Maka masalah pengankutan Bedug Agung itu
akan menjadi masalah yang cukup besar dan rumit.
Setelah Bupati
Raden Adipati Cokronagoro menerima laporan dari adindanya Wedana Raden
Tumenggung Prawironagoro, bahwa Bedug Agung telah selesai dibuat dan
siap untuk segera diangkut ke Purworejo. Untuk pengankutan Bedug Agung
tidaklah mudah karena membutuhkan tenaga yang ahli karena keadaan Bedug
yang sangat besar dan tempat dimana Bedug itu dibuat karena hutan jati
tersebut merupakan tempat yang agak menakutkan, wingit kata orang Jawa.
Disamping itu diperlukan juga ketajaman pikir serta kebijakan orang yang
akan memimpin pengangkutan Bedug tersebut dengan melalui jalan pada
saat itu yang kondisinya jelek. Tentulah hanya orang yang mempunyai daya
linuwih sajalah yang akan berhasil melaksanakan tugas berat itu
Pada masa itu menurut tradisi masyarakat Jawa, setiap pekerjaan atau
tugas yang akan dilaksanakan, haruslah dipimpin oleh kaum kerabat dari
yang mempuyai perintah tersebut ( ingkang yasa ), setelah kemudian
ternyata tidak ada yang sanggup, maka diperkenankan untuk dicarikan
penggantinya dari orang luar kerabat yang yasa itu.
Demikian pula
dengan tugas berat ini, bahwa ternyata kerabat Cokronagoro itu tidak ada
yang sanggup atau bersedia untuk melaksanakannya. Maka akhirnya
terpaksa harus dipilihkan orang luar. Kemudian dengan agak takut-takut,
Tumenggung Prawironagoro mencoba mengajukan usul untuk memilih orang
luar kerabat Cokronagaran, tetapi yang masih ada kaitannya dengan
kerabat Cokronagaran. Beliau mencoba mengusulkan Putra Menantunya
sendiri sebagai pengemban tugas besar itu, yaitu Kyai Muhammad Irsyad
yang menikah dengan putrinya.
Kyai Muhammad Irsyad ini adalah
seorang Kyai serta Kaum ( Labai) dari pondok pesantren Solotiang di
wilayah Loano. Kyai Irsyad ini mempunyai kelebihan dan kecerdasan
pikirnya dibanding dengan orang-orang lainnya. Setelah disampaikan
usulannya serta alasan-alasan pengajuan menantunya itu kepada kanjeng
Adipati, maka dengan harap-harap cemas Raden Tumenggung Prawironagoro
menanti jawaban dari Kanjeng Adipati. Tetapi kemudian ternyata usulan
tersebut dapat diterima oleh Kanjeng Raden Adipati Cokronagoro. Demikian
pula pada saat itu para pembesar Kadipaten pun menyetujuinya. Mereka
percaya bahwa Kyai Muhammad Irsyad akan mampu mengatasi pekerjaan besar
tersebut.
Dengan demikian dalam bahasa Jawa dikatakanlah bahwa Kyai
Muhammad Irsyad itu ” sinengkaake ing ngaluhur ( diangkat menjadi orang
besar ) oleh Kanjeng Raden Adipati Cokronagoro I. Kemudian para ahli
yang terpilih Kanjeng Adipati Cokronagoro berkenan melantik Kyai
Muhammad Irsyad menjadi Pembesar yang akan mengepalai pekerjaan besar
dan mulia itu.
Kayu jati bakal bedug diikat dengan kuat, beberapa
ujung tali pengikat itu ditarik secara ramai-ramai. Bagian bawah
dilandasi dengan kayu panjang bulat beberapa buah, agar dalam penarikan
terasa ringan karena kayu bulat tadi akan berputar. Kemudian muka bedug
dipasang lagi kayu-kayu bulat yang lain, demikian seterunya hingga
sampai ke pos pertama kemudian berhenti untuk istirahat. Sepanjang
perjalanan para pekerja bersorak-sorak Rambatirata, gugur gunung dengan
diiringi gendang, angklung, seruling, bende dan tabuhan lainnya,
sehingga menambah semangat para pekerja tadi. Riuh rendahlah suara para
pekerja para pekerja dan para penonton disepanjang perjalan itu.
Sesampainya di Braak atau pos pemberhentian, para penarik bedug pun
berhentilah untuk beristirahat. Di braak itu telah disiapkan makanan dan
minuman, perangkat tetabuhan gamelan beserta ledeknya. Penduduk
sekitarnya menyambut rombongan pekerja penarik bedug Agung itu.
Disaat istirahat dengan lemah gemulai para ledek ( Tandak ) itupun
menari diiringi irama gamelan. Sesekali diantar mereka turut menari,
berjoget dengan para ledek tersebut menambah gembiranya suasana.
Demikian keadaan di Braak saat itu, sampai pada akhirnya mereka terlelap
tidur. Begitulah setiap Braak dicapai setiap harinya, hingga sampai
Braak terakhir terjangkau. Maka diperkirakan memakan waktu 20 hari
perjalanan penarikan Bedug Ageng tersebut.
Demikianlah Pos demi pos
dilalui selama kurang lebih 20 hari dengan penuh semangat serta
perhatian dari penduduk sekitarnya,akhirnya sampailah di Kota Purworejo
Di Kota Purworejo telah disiapkan penyambutan oleh Kangjeng Raden
Adipati Cokronagoro beserta pembesar-pembesar Kabupaten dan Ulama-ulama,
demikian pula penduduk Kota Purworejo turut mengelu-elukannya.
Di
depan Gapura Masjid Agung, para penyambut telah siap siaga menunggu
kedatangan Beduk Ageng yang akan menjadi kebanggaan seluruh
rakyat Purworejo nantinya. Tak berapa lama terdengarlah suara
bunyi-bunyian riuh rendah , puput serunai, gendang dan angklung serta
sorak sorai para penarik beduk dan penonton, bercampur menjadi satu,
gegap gemita tidak karuan suaranya.
Para penyambut di depan gapura
masjid, bergoyang dan bergumam seperti suara lebah mendengung, semua
melihat kearah datangnya suara gemuruh riuh rendah itu. Tampaklah
didepan sendiri para penari, pentulan dan jathilan menari-nari mengikuti
bunyi-bunyian, diikuti oleh para penabuh dan akhirnya tampaklah Kiayi
Muhammad Irsyad bersama para pengirimnya berjalan didepan para penarik
Bedug Agung itu. Di belakang sendiri para penggembira dari desa-desa
yang dilalui turut mengiringinya dengan membawa serta bunyi-bunyiannya
sendiri-sendiri. Sesampainya didepan gapura Masjid Agung, rombongan
tersebut berhenti. Para penari, pentulan jathilan dan lain sebagainya,
menyibak memberikan jalan untuk lalunya Kyai Muhammad Irsyad.
Setelah Kayu Jati yang diperuntukan bagi Bedug Agung itu sampai di
masjid Agung Kota Purworejo, maka untuk selanjutnya akan disempurnakan
sebagaimana halnya sebuah bedug, yaitu dipasang penutup Bedug dari
kulit. Karena besarnya bedug itu, maka diperlukan kulit penutup yang
besar pula kemudian dicarilah kulit yang besar dari hewan besar. Pada
masa itu masih banyak terdapat banteng. Maka jatuhlah pada pilihan hewan
ini. Setelah kulit banteng didapat, lalu dipanggilmya seorang yang ahli
Pemangkis ( penutup ) bedug yang terkenal di Purworejo
Sebelum di
tutup, didalam bedug itu dipasang semacam gong sejumlah 2 buah, dipasang
behadapan dengan maksud, apabila bedug itu di tabuh, maka akan
diteruskan pada kedua gong tadi getarannya. Diharapkan suaranya akan
bertambah nyaring. Dalam istilah ilmu alamnya ( fisika ) hal itu disebut
resonansi.
Bedug Agung yang telah selesai diberi penutup dari
kulit banteng tersebut, digantung pada kerangka kayu jati dengan rantai
besi. Kemudian diletakkan disebelah selatan dalam serambi Masjid Agung.
Disampingnya diletakkan sebuah khenthongan kayu jati yang agak besar,
sebagai pembantu irama bedug bila di tabuh. Pada awalnya Bedug Ageng itu
adalah ditabuh orang apabila telah tiba saatnya Sholat Wajib yang Lima.
Jadi didalam waktu satu hari Bedug Agung di pukul dengan irama tertentu
sebanyak lima ( 5 ) kali. Pada masa itu pepohonan masih cukup rapat,
dan udara tidak begitu kotor, suara bising dan hiruk pikuk tidak ada,
maka suara serta gema dari bunyi Bedug Agung sangat keras terdengar.
Maka dimintalah lembu Ongale tadi untuk memenuhi kebutuhan Bedug Agung.
Tentu saja pemiliknya tidak merasa keberatan untuk memberikannya.
Akhirnya disembelih dan dikulitilah lembu itu serta disamak dengan baik
agar diperoleh bahan penutup bedug yang kuat dan awet. Pada tanggal 13
Mei 1936, dipasanglah kulit lembu Ongale itu sebagai ganti kulit penutup
Bedug Agung yang rusak tadi.
Penggantian kulit Bedug Agung yang
terakhir ini, adalah pada bulan Mei tanggal 3 tahun 1993 Masehi. Yang
diganti ialah kulit penutup bagian belakang, adapun penggatinya hanya
kulit sapi biasa yang cukup besar pemberian seorang dermawan dari
Cilacap. Anehnya bila kulit bedug sudah diberikan, maka dapat dipastikan
beberapa saat kemusian salah satu bagian penutup itu terus rusak.Wallhu
’alam Bishshawab
Data - Data Bedug Ageng Pendowo – Kyai Bagelen
1Bahan Bedug : Bongkot (pangkal)pohon jati bang yang bercabang lima,yang berusia ratusan tahun
2Ukuran Bedug :
Panjang Badan Bedug : 292cm
Garis tengah depan : 194cm
Garis tengah belakang :180cm
Keliling bagian depan : 601cm
Keliling bagian belakang :564cm
3 Penutup Bedug Semula dari kulit Banteng .
1 Tangga l3Mei 1936 di ganti dengan kulit lembu Ongale
2 Bagian belakang diganti lagi dengan kulit sapi besar pada bulan Mei 1993
4 Paku penguat untuk penguat sekeliling kulit Penutup Bedug, diberikan paku keliling tersebut dari kayu jati
Jumlah paku keliling : Bagian depan = 112 buah
Bagian belakang = 98 buah
1. Waktu pembuatan diperkirakan antara tahun 1834 – 1840 Masehi
2.
Dibuat atas perintah Kanjeng Raden Adipati Cokronagoro I , Bupati
Purworejo pertama. Diangkut dari dukuh Pendowo, Bragolan, Purwodadi ke
Masjid Agung Purworejo dengan pimpinan Kyai Haji Muhammad Irsyad, Kaum (
Na’ib ) desa Solotiang, Loano, Purworejo. Putra menantu Raden
Tumenggung Prawironagoro Wedana Bragolan Purworejo
3. Bedung Agung
ini akan dibunyikan pada hari-hari tertentu saja, tidak setiap hari
seperti pada masa lampau, hal ini dilakukan untuk menghindari cepat
rusaknya kulit penutup bedug itu sendiri, bila terlalu sering dipalu
orang.
4. Hari-hari itu adalah, setiap hari Kamis, dimulai pada
saat Shlolat Ashar, Sholat Maghrip, Isya’, Sholat Subuh dan menjelang
Sholat Jum’at. Setelah itu berhenti. Lalu setiap menjelang Sholat Sunnat
Hari Raya Fitrah ( Idul Fitri ) dan Qurban, pada saat detik-detik
Proklamasi Tanggal 17 Agustus serta bila ada kejadian-kejadian penting
lainnya. Selain hari-hari tersebut, Bedug Ageng ini tidak dibunyikan
orang.
Orang yang bertugas untuk memukul Bedug Ageng ini ialah Bapak Amat Sa’bani, Bp. Jahri dan pada bila hari raya adalah Turmudi.