BANGUNAN masjid yang diyakini sebagai tinggalan Raden Tumenggung Gagak Pranolo, seorang ulama besar yang hidup pada sekitar tahun 1800-an di Dukuh Tanggung, Desa Sidomulyo, Kecamatan/Kabupaten Purworejo itu, roboh pada sekitar tahun 1940-an. Pada saat penghuni kampung itu mengungsi karena pendudukan Jepang.
“Karena tidak ada yang merawat, bangunan itu semakin rusak. Di samping warga masyarakat yang telah kembali ke kampung ini tidak lagi berani menjamah tempat itu karena sangat keramat,” jelas KR Muhammad Isttisak, salah seorang yang dituakan di wilayah itu.
Dan sejak beberapa tahun terakhir, kendati tinggal puing-puing bangunannya saja, warga kembali mengenang akan sejarah masjid itu, yang konon juga merupakan sebuah cagar budaya.
“Selama ini meskipun bangunan itu sudah roboh, namun warga masyarakat Dukuh Tanggung masih menganggapnya sebagai tempat suci, sehingga tidak berani sembarangan berada di tempat itu. Bahkan untuk menginjak tanah di lokasi bangunan saja, mereka bersuci layaknya masuk masjid,” katanya seraya menambahkan, setiap malam Jumat tempat itu selalu dimanfaatkan untuk bermujahadah.
KR Muhammad Isttisak yang masih keturunan salah satu dari imam masjid itu menjelaskan, warga yang bermujahadah di tempat itu hanya sekadar beralaskan tikar dengan lampu penerang seadanya. Namun dari kegiatan mujahadah itu, tersirat bahwa para leluhur mereka mengizinkan bangunan itu didirikan kembali. “Kita akan merasakan sesuatu bilamana mengikuti mujahadah di tempat itu,” tandasnya.
Suasana gaib itu diantaranya sebuah aroma harum yang ternyata tidak ada jamaah yang menggunakan parfum seperti itu. Namun para sepuh yang telah memiliki tataran ilmu tinggi akan mengerti maksud itu. “Diyakini roh leluhur kita ikut hadir dalam mujahadah itu, dan mengizinkan masjid itu dibangun kembali,” jelas KR Muhammad Isttisak (Mais).
***
Berkat kemauan keras, warga masyarakat di samping terus berupaya menggali sejarah keberadaan masjid itu, juga terbentuk panitia khusus yang menangani pembangunan kembali masjid itu. Arsiteknya sama sekali tidak merubah bentuk aslinya. Pun begitu batu-bata yang dibuat dinding bangunan, juga berlapis dua sehingga menjadi sangat tebal seperti bangunan waktu dulu.
“Jika dibangun dengan susunan satu batu bata layaknya bangunan sekarang sudah menjadi dua masjid dengan ukuran yang sama,” jelas H Nur Hamid, ketua panitia pembangunan masjid itu.
Dibuat demikian karena warga sangat mengharapkan bangunan masjid itu tampak seperti aslinya. Dibangun dengan ukuran 10,5 x 7 meter, tepat pada pondasi bangunan sebelumnya. “Tidak merubah tempat, kecuali bagian depan yang ada pengurangan sedikit,” katanya.
Pembangunan masjid bersejarah yang telah rusak total itu diperkirakan menelan dana sekitar Rp 430 juta lebih, karena sebagian besar tenaganya merupakan swadaya jamaah warga. Sedang donatur di samping berasal dari warga setempat, juga para tokoh dan para putra desa yang kini sudah tersebar di berbagai daerah. Mereka begitu cintanya pada tinggalan leluhurnya untuk tempat ibadah itu, rela menyisihkan sebagian hartanya untuk membangun kembali masjid agung yang disebut-sebut pernah menjadi kebanggaan masyarakat waktu dulu.
Namun demikian, pelaksanaan pembangunan masjid itu sempat terhenti beberapa bulan karena panitia kehabisan dana. “Sejak peletakan batu pertama hingga sekarang sudah satu tahun, dan bentuk bangunan itu sudah dapat dilihat,” jelas Mais.
Pun begitu panitia juga masih terus berupaya menggali dana, utamanya dari anak turun keluarga RT Gagak Pranolo yang sudah tersebar di berbagai penjuru, untuk menyelesaikan bangunan yang telah memiliki sejarah cukup lekat di masyarakat desa itu. “Kami yakin tidak lama lagi masjid ini akan sempurna, apalagi genting juga sudah naik,” kata sejumlah warga yang selalu ikut nyengkuyung pembangunan masjid itu.
0 kritik dan saran:
Posting Komentar